Ada pasangan yang menyapa setiap hari, ada riuh tawa anak yang memenuhi sudut rumah. Secara kasat mata, semuanya tampak utuh. Namun di dalam dada, ada ruang gelap yang tetap dingin—sebuah ruang kosong yang tidak tersentuh oleh siapa pun.
Rasa hampa ini datang tanpa permisi, mengetuk pintu hati lalu menetap begitu saja. Ada rasa bersalah yang perlahan menjalar: Mengapa aku merasa sepi, padahal aku memiliki segalanya? Mengapa aku merasa hampa, saat seharusnya aku bahagia?
Namun, emosi manusia tidak pernah sedatar hitungan matematika. Kehadiran fisik orang-orang tercinta tidak otomatis mengisi celah jiwa yang sedang haus akan koneksi yang lebih dalam—baik koneksi dengan mereka, maupun koneksi dengan diri sendiri yang perlahan terkikis oleh rutinitas dan tuntutan peran.
Di balik status sebagai pelindung keluarga dan penopang rumah tangga, ada manusia biasa yang juga butuh didengar, dipahami, dan dirawat jiwanya. Perasaan kosong ini bukanlah tanda kurangnya rasa syukur, melainkan sebuah bisikan lembut dari dalam diri yang sedang berbisik: Aku lelah, dan aku merindukan diriku yang dulu.
Tidak apa-apa untuk tidak merasa baik-baik saja. Izinkan rasa sepi itu singgah sebentar, tanpa perlu dihakimi, sampai nanti hangat itu perlahan menemukan jalannya kembali.Terperangkap di tengah keramaian adalah bentuk kesepian yang paling sunyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar